BAB II
BUMI DAN JAGAT RAYA
A.
Sejarah Perkembangan Muka Bumi
1. Sejarah Terbentuknya Bumi
Bumi berasal dari gumpalan gas yang besar dan dalam keadaan berputar. Suatu
saat terlepaslah sebagian gumpalan tersebut. Gumpalan-gumpalan yang etrpisah
dan masih ettap berputar mengalami proses pendinginan akan menjadi padat.
Itulah yang disebut planet-planet termasuk bumi di dalamnya.
Ada 3 tahap dalam proses pembentukan bumi yaitu sebagai berikut :
a. Awalnya bumi masih
merupakan planet homogen dan belum mengalami perlapisan atau perbedaan unsur.
b. Pembentukan perlapisan
struktur bumi diawali dengan terjadinya diferensiasi. Materiel besi yang berat
jenisnya lebih besar akan tenggelam, sedangkan yang berat jenisnya lebih ringan
akan bergerak ke permukaan.
c. Bumi terbagi menjadi tiga
lapisan, yaitu inti, mantel, dan kerak bumi.
2. Struktur Bumi
Lapisan ini terletak di bawah kerak bumi yang mempunyai suhu kira-kira
2000° C dan pada umumnya dibagi menjadi 3 yaitu:
- Lhitosfer
Letaknya paling atas dari selimut bumi, terdiri dari materi-materi yang
berwujud padat dan kaya silisium dan aluminium, tebalnya sekitar 50-100 km.
Bersamaan dengan kerak bumi sering disebut dengan lempeng lhitosfer yang
mengapung diatas lapisan yang agak kental yaitu astheonosfer.
- Astheonosfer
Lapisan dibawah lhitosfer yang wujudnya agak kental, kaya dengan silisium,
aluminium dan magnesium. Tebal lapisan ini sekitar 130-160 km
- Barisfer
Lapisan inti bumi yang merupakan bagian bumi paling dalam yang tersusun
dari lapisan nife (niccolum atau nikel dan ferrum atau besi).
3. Sejarah Perkembangan bumi
Beberapa teori mengenai pergerakan benua antara lain:
a. Teori Apungan benua
(Wegener)
Semua
daratan berasal dari satu benua besar yang disebut pangea. Asumsinya didasari
oleh:
a. Terdapat kesamaan yang mencolok antara garis kontur
pantai timur Benua Amerika Utara dan Selatan dengan garis kontur pantai barat
Eropa dan Afrika.
b. Bentangan-bentangan
samudra dan benua-benua mengapung sendiri-sendiri.
c. Batas
Samudra Hindia semakin mendesak ke utara. Anak benua India semakin menyempit
dan makin mendekati ke Benua Eurasia, sehingga menimbulkan lipatan Pegunungan
Himalaya.
d. Green
land semakin mendekat ke Amerika Utara
b. Teori Kontraksi
Bumi
telah mengalami pendinginan dalam jangka waktu yang sangat lama. massa yang
sangat panas bertemu dengan udara dingin membuatnya mengerut. Zat yang
berbeda-beda menyebabkan pengerutan yang tidak sama antara 1 tempat dan tempat
lain (James Dana dan Elie Baumant)
c. Teori Laurasia-Gondwana
Muka
bumi selalu mengalami perubahan atau perkembangan. Perubahan ini terus
berlangsung hingga kini, ditunjukan dengan adanya pergeseran daratan (benua).
Jika dirunut pada sejarah masa lalu, sebenarnya benua2 di muka bumi pernah
berkumpul menyatu, menjadi sbuah benua besar (supercontinent) brnama Laurasia
di utara, dan Gondwana di selatan. Kedua benua ini secara perlahan-lahan
bergerak ke arah ekuator. Rotasi bumi membuat sebagian benua terakumulasi di daerah
ekuator dan bumi barat. PAda perkembangannya, benua ini pecah dan memisah
saling menjauh. Dan membentuk kondisi seperti sekarang ini (5 benua).(Eduard
Suess)
d. Teori Ed Suess
adanya
persamaan formasi geologi yang terdapat di Amerika Selatan, India dan
Australia, Antartika disebabkan pernah bersatunya daratan.
4. Teori Lempeng Tektonik
Teori
ini adalah yang paling masuk akal dan diterima diseluruh dunia oleh ahli
geologi.
Kerak bumi dan lapisan litosfer mengapung diatas astenosfer, sehinga dianggap satu daerah yang saling berhubungan karena adanya aliran konveksi yang keluar di bagian tengah dasar samudra.
Kerak bumi dan lapisan litosfer mengapung diatas astenosfer, sehinga dianggap satu daerah yang saling berhubungan karena adanya aliran konveksi yang keluar di bagian tengah dasar samudra.
B.
Sejarah Kehidupan di Muka Bumi
Beberapa teori yang mendukung sejarah terjadinya bumi dan
peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi antara lain:
1.
Teori Malapetaka
Teori ini dikemukakan oleh Baron
Georges Cuvier. Ia berpendapat bahwa flora dan
fauna dari tiap zaman itu berjalan tidak berubah, dan sewaktu terjadinya
revolusi maka hewan-hewan ini musnah. Sesudah malapetaka tadi muncul hewan dan
tumbuhan baru sehingga teori ini lebih umum disebut teori malapetaka.
2.
Teori
Uniformitarisma
Teori ini dicetuskan oleh James Hutton, teori ini berbunyi “The Present
is The Key to The Past”, yang berarti kejadian sekarang adalah cerminan
atau hasil dari kejadian pada zaman dahulu, sehingga segala kejadian alam yang
sekarang terjadi dengan mekanisme yang lambat dan proses yang berkesinambungan
seragam dengan proses-proses yang kini sedang berlangsung. Hal ini
menjelaskan bahwa rangkaian pegunungan-pegunugan besar, lembah serta tebing
curam tidak terjadi oleh suatu malapetaka yang tiba-tiba, akan tetapi oleh
proses alam yang berjalan dengan sangat lambat.
Yang dapat disimpulkan dari teori ini adalah :
·
Proses-proses
yang terjadi di alam berlangsung secara berkesinambungan.
·
Proses-proses
alam yang terjadi sekarang merefleksikan proses yang terjadi pada masa
lampau dengan intensitas yang berbeda.
3.
Hukum
Pengendapan (STENO)
Berdasarkan pengamatan Nicolaus Steno, ia mengemukakan tiga prinsip
dasar pengendapan yang lebih dikenal sebagai hukum Steno :
a. Hukum Superposisi,
yang menyatakan bahwa secara normalnya, batuan yang berada pada lapisan
bawah adalah batuan yang lebih tua dibandingkan lapisan atasnya. Terkecuali
jika terjadi beberapa hal, seperti interusi batuan beku dll.
b. Hukum Horizontalitas,
pada awalnya, sedimen terendapkan secara mendatar. Jika perlapisan batuan
tersebut miring, patah, terlipat, berarti batuan tersebut telah mengalami
deformasi.
c. Hukum Kemenerusan lateral (lateral
continuity),
yang menyatakan bahwa mengendapan
batuan sedimen menyebar secara mendatar, sampai menipis atau menghilang pada
batas dimana ia diendapkan. Selain itu juga, kita dapat mengidentifikasi apakah
lapisan batuan tertentu terbentuk pada masa yang sama. Yaitu dengan cara
korelasi fosil yang ditemukan pada batuan tersebut.
C.
Jagat Raya
1.
Pengertian Jagat Raya
Dalam kehidupan sehari – hari, jagat raya lebih dikenal dengan alam
semesta. Orang Babylonia (sekitar 700 – 600 SM) beranggapan bahwa jagat raya
merupakan suatu ruangan di mana bumi yang datar sebagai lantainya sedangkan
langit dan bintang sebagai atapnya.
Jagat raya dapat diartikan sebagai suatu ruangan yang sangat besar, di mana
di dalamnya terjadi peristiwa alam yang dapat diungkapkan manusia yang belum
diungkap.
Sepanjang sejarah hiudpnya, manusia telah mengalami perubahan dan
perkembangan pengetahuan tentang alam semesta.
Ada beberapa teori yang sangat terkenal mengenai terbentuknya jagat raya,
yaitu teori jagat raya mengembang, teori big bang, teori keadaan tetap, dan
teori berayun.
a.
Teori Jagat Raya Mengembang
Edwin Hubble melakukan pengamatan terhadap
galaksi – galaksi yang letaknya sangat jauh. Galaski – galaksi ini selalu
bergerak menjauhi pusat jagat raya dengan kecepatan yang tinggi. Antargalaksi
jaraknya pun semakin bertambah setiap saat. Hal ini bearti bahwa jagat raya
tidaklah statis akan tetapi terus mengalami perkembangan.
b.
Teori Bing Bang
Teori ini berasal dari anggapan bahwa pada awal mulanya ada suatu massa
yang luar biasa besarnya dengan berat jenis yang sangat besar. Akibat adanya reaksi inti maka massa yang luar biasa besarnya
tersebut meledak dan berserakan kemudian mengembang dengan sangat cepat
menjauhi pusat ledakan.
c.
Teori Keadaan Tetap
Teori ini dipelopori oleh Fred
Hoyle. Menurutnya, materi baru (hidrogen) diciptakan setiap saat untuk
mengisi ruang kosong yang timbul dari pengembangan jagat raya. Dalam kasus ini
jagat raya tetap dan akan selalu tampak sama.
d.
Teori Berayun
Berdasarkan teori ini, semua materi saling menjauh dan berasal dari massa
yang padat. Selanjutnya, materi itu gerakannya melambat kemudian berhenti dan
mulai mengerut lagi akibat gaya gravitasi. Lalu materi tersebut akan memadat
dan meledak lagi. Dalam proses ini tidak ada materi yang rusak maupun tercipta
akan tetapi hanya berubah tatanan.
Perkembangan dari awal hingga akhir dari pandangan – pandangan tersebut
adalah sebagai berikut.
a.
Anggapan Antroposentris atau Egosentris
Anggapan ini dimulai pada tingkat awal manusia atau pada manusia primitif
yang menganggap bahwa manusia sebagai pusat alam semesta. Pada waktu menyadari
ada bumi dan langit, manusia menganggap matahari, bulan, bintang, dan bumi
serupa dengan hewan , tumbuhan dan dengan dirinya sendiri.
b.
Anggapan Geosentris
Anggapan ini menempatkan bumi sebagai pusat alam semesta. Geosentris
berasal dari kata geo yang artinya
bumi dan centrum yang artinya pusat. Anggapan ini dimulai
sekitar abag VI SM, saat pandangan egosentris mulai ditinggalkan. Salah seorang
yang mengemukakan anggapan geosentris adalah Claudius Ptolomeus. Ia melakukan observasi di Alexandria, kota
pusat budaya Mesir pada masa lalu. Ia menganggap bahwa pusat jagat raya adalah
bumi, sehingga bumi ini dikelilingi oleh matahari dan bintang – bintang.
c.
Anggapan Heliosentris
Pandangan heliosentris (helis =
matahari) dianggap sebagai pandangan yang revolusioner yang menempatkan
matahari sebagai pusat alam semesta. Seorang nahasiswa kedokteran, ilmu pasti,
dan astronomi, Nicolaus Copernicus pada
tahun 1507 menulis buku “De Revolutionibus
Orbium Caelestium” (Tentang revolusi peredaran benda – benda langit). Ia
mengemukakan bahwa matahari merupakan pusat jagat raya yang dikelilingi planet
– planet, bahwa bulan mengelilingi bumi dan bersama – sama mengitari matahari,
dan bahwa bumi berputar ke timur yang menyebabkan siang dan malam.
d.
Anggapan Galaktosentris
galaktosentris (galaxy = kumpulan
jutaan bintang) merupakan anggapan yang menempatkan galaksi sebagai pusat tata
surya. Galaktosentris dimulai tahun 1920 yang ditandai dengan pembangunan
teleskop raksasa di Amerika Serikat, sehingga dapat memberikan informasi yang
lebih banyak mengenai galaksi. Galaksi adalah suatu sistem bintang atau tatanan
bintang – bintang. Galaksi tersusun secara menggerombol dan tiap – tiap anggota
galaksi memiliki gaya tarik – menarik (gravitasi). Matahari bersama – sama
planet yang mengitarinya terletak pada sebuah galaksi yang diberi nama galaksi
Bimasaki.
2.
Anggota-Anggota Jagat Raya
Di dalam jagat raya terdapat banyak sekali benda – benda angkasa antara
lain galaksi, bintang, planet, meteor, dan lain – lain. Berikut ini akan
diuraikan tentang bintang dan galaksi. Sedangkan planet dan benda angkasa
lainnya dibahas dalam subbab tata surya.
a.
Bintang
Bintang adalah benda langit yang mempunyai cahaya sendiri akibat adanya
reaksi inti di dalamnya. Meskipun menggunakan teleskop paling canggih,
kebanyakan bintang di ruang angkasa terlihat tidak lebih besar dari ujung
peniti. Sebuah bintang mempunyai ukuran dan warna yang berbeda – beda, bahkan
ada yang berpasangan dan saling mengorbit, yang dikenal sebagai bintang kembar.
Berdasarkan volumenya, bintang
yang ada di jagat raya dibagi menjadi tiga macam, yaitu bintang raksasa,
bintang sedang, dan bintang kerdil. Ukuran bintang tidak mengenal besarnya
saja, tetapi juga berdasarkan magnitudonya. Yang dimaksud dengan magnitudo
adalah derajat kekuatan sinar bintang. Makin kecil magnitudo suatu bintang
makin terang cahaya bintang tersebut. Magnitudo beberapa bintang dapat anda
lihat dlam tabel di bawah ini.
|
No
|
Nama Bintang atau Benda Langit
Lainnya
|
Magnitudo
|
|
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
|
Antares
Alpha
Centaury
Beta Centaury
Canopus
Sirius
Venus
Matahari
|
1,3
0,1
0,9
-0,9
-1,6
-4
-27
|
Berikut ini perbandingan antara
beberapa bintang dengan matahari dalam hal ukuran serta tingkat terangnya.
1) Bintang Sirius/cebol putih, mempunyai diameter
1/100 kali diameter matahari, dan terangnya 1/400 kali terangnya matahari.
2) Bintang Barnard/cebol merah, mempunyai diameter
1/10 kali diameter matahari, dan terangnya 1/2.000 kali terangnya matahari.
3) Bintang Capital/raksasa kuning, mempunyai
diameter 16 kali diameter matahari, dan terangnya 150 kali terangnya matahari.
4) Bintang Rigel/raksasa biru putih, mempunyai
diameter 80 kali diameter matahari.
5) Bintang Betelgeux/raksasa supermerah, mempunyai
diameter 300 – 400 kali matahari.
Para astronom melakukan pengelompokkan spektrum bintang berdasarkan susunan
garis yang dinyatakan dalam simbol – simbol kelas spektrum seperti O, B, A, F,
G, K, dan M.
Klasifikasi Spektrum Bintang
|
Kelas Spektrum
|
Temperatur
|
Warna
|
|
O
B
A
F
G
K
M
|
> 25.000 K
11.000 – 25.000 K
7.500 – 11.000 K
6.000 – 7.500 K
5.000 – 6.000 K
3.500 – 5.000 K
< 3.500 K
|
Biru
Biru
Biru
Biru keputih – putihan
Putih kekuning – kuningan
Jingga kemerah – merahan
Merah
|
b.
Galaksi
Galaksi merupakan suatu sistem perbintangan yang sangat luas, di dalamnya
terdapat jutaan bahkan miliaran bintang beserta benda – benda langit lainnya
sebagai anggota yang beredar mengelilingi pusat dengan gerakan yang teratur.
Contoh galaksi adalah galaksi Bimasaki di mana matahari sebagai bintang
merupakan bagian dari galaksi tersebut. Sebagai anggota jagat raya, galaksi
mempunyai cahaya sendiri dan jarak antargalaksi yang satu dengan yang lainnya
jutaan tahun cahaya.
1) Teori Terbentuknya Galaksi
a) Teori Top-Down
Jagat raya terbentuk dari awan gas yang besar dan padat yang kemudian pecah
– pecah. Masing – masing pecahannya tersebut berubah menjadi galaksi melalui
proses kotraksi awan gas.
Kontraksi awan gas terjadi karena adanya pengaruh gravitasi, yang akhirnya
menghasilkan bintang – bintang.
Menurut teori ini, galaksi terbentuk dengan cara top-down, terbelah dari
volume yang besar menjadi pecahan – pecahan yang lebih kecil.
b) Teori Bottom – Up
Teori ini menyangkal teori pertama. Teori ini menyatakan bahwa galaksi
terbentuk dari bagian – bagian yang kecil menjadi besar.
Dalam teori ini, pada awalnya daerah – daerah yang mempunyai kepadatan
tinggi di jagat raya ini berukuran kecil. Karena gaya gravitasi, daerah –
daerah ini mulai bersatu dan membentuk susunan yang lebih besar dan akhirnya
membentuk gravitasi.
2) Ciri - Ciri Galaksi
Ciri – ciri galaksi antara lain :
a) Galaksi
terlihat di luar jalur bintang kali serayu, sejauh ratusan ribu, bahkan jutaan
tahun cahaya.
b) Galaksi –
galaksi mempunyai cahaya sendiri, bukan cahaya pantulan.
c) Galaksi –
galaksi mempunyai bentuk tertentu, yang selalu mempunyai inti yang bercahaya di
pusatnya, sehingga mudah untuk dikenal, dan
d) Jarak
antargalaksi jutaan tahun cahaya.
3) Bentuk – Bentuk Galaksi
Galaksi memiliki tiga bentuk dasar, yaitu spiral, elips dan tak beraturan.
a) Bentuk Spiral
Galaksi spiral mempunyai distribusi bintang dan nebula berbentuk spiral, dan
umumnya datar seperti cakram. Akan tetapi, bagian tengah galaksi jenis ini
menggelembung.
b) Bentuk elips
Galaksi elips berbentuk seperti bola rugby raksasa. Galaksi elips
mengandung sangat sedikit materi nebula, sehingga sangat sedikit memiliki bintang
baru.
c) Bentuk Tak Beraturan
Kira – kira empat persen dari seluruh jumlah galaksi berbentuk tak
beraturan atau tidak mempunyai bentuk tertentu.
4) Jenis – Jenis Galaksi
Ada beberapa macam galaksi yang diketagui manusia, antara lain sebagai
berikut:
a) Galaksi Bimasaki
Merupakan galaksi di mana bumi berada. Galaksi Bimasaki memiliki bentuk
spiral, terdiri lebih dari 40 miliar bintang, salah satu di antaranya adalah
matahari. Dari tepi ke tepi panjangnya sekitar 100.000 tahun cahaya. Galaksi
Bimasaki ini termasuk berukuran sedang apabila dibandingkan dengan kelompok –
kelompok lainnya. Corak dan struktur dari galaksi Bimasaki berbentuk spiral
dengan massa bintang kurang lebih 100 miliar massa matahari. Bimasaki
menunjukkan gerak rotasi pada intinya.
b) Galaksi Magellan
Merupakan galaksi yang paling dekat dengan galaksi Bimasaki. Jaraknya
kurang lebih 150.000 tahun cahaya dan berada di belahan langit selatan.Galaksi
Magellan terlihat seperti kabut dan terletak di daerah rasi Doroda dan Tucan.
Kabut yang terang dan besar disebut Magellan Besar. Yang kecil, Magellan kecil.
c) Galaksi Ursa Mayor
Berjarak 10.000.000 tahun cahaya dari galaksi Bimasaki. Bentuk galaksi Ursa
Mayor adalah elips dan rapat.
d) Galaksi Jauh
Contoh galaksi jauh adalah galaksi Silvery,
Triangulum dan Whirlpool.
Galaksi – galaksi yang terletak lebih dari 10.000.000 tahun cahaya dari
galaksi Bimasaki termasuk galaksi jauh.
e) Galaksi Andromeda
Galaksi Andromeda berbentuk spiral dan berjarak kurang lebih 2.000.000
tahun cahaya dari galaksi Bimasakti. Pusat galaksi tidak terurai menjadi
bintang – bintang yang terpisah dan inti pusat galaksi sangat terang dan
berwarna putih, di sekitarnya terdapat gugus bintang yang sudah tua dan
berwarna merah jambu.
f) Galaksi Mata Hitam (Black Eye)
Pada tahun 1781 seorang astronom Prancis, Charles Messier melakukan terhadap survei pemotretan terhadap
galaksi dan nebula. Di antara galaksi yang lebih ditemukan oleh Messier, ada
satu galaksi yang memiliki sifat yang aneh yaitu memiliki cincin kabut dan
berwarna gelap.
D.
Sistem Tata Surya
1. Asal-usul Tata Surya
Banyak ahli telah mengemukakan hipotesis tentang asal-usul Tata Surya,
diantaranya.
·
Hipotesis
Nebula
Hipotesis Nebula pertama kali dikemukakan oleh Emanuel Swedenborg (1688-1772) tahun 1734
dan disempurnakan oleh Immanuel Kant (1724-1804) pada tahun 1775.
Hipotesis serupa juga dikembangkan oleh Pierre Marquis de Laplace secara
independen pada tahun 1796.
Hipotesis ini lebih dikenal dengan Hipotesis Nebula Kant-Laplace yang
menyebutkan bahwa pada tahap awal Tata Surya masih berupa kabut raksasa.
·
Hipotesis
Planetisimal
Hipotesis Planetisimal pertama kali dikemukakan oleh Thomas C. Chamberlin dan Forest R.
Moulton pada tahun 1900. Hipotesis
planetisimal mengatakan bahwa Tata Surya kita terbentuk akibat adanya bintang
lain yang lewat cukup dekat dengan matahari.
·
Hipotesis
Pasang Surut Bintang
Hipotesis Pasang Surut Bintang pertama kali dikemukakan oleh James Jeans
pada tahun 1917.
Planet dianggap terbentuk karena mendekatnya bintang lain kepada
matahari. Keadaan yang hampir bertabrakan menyebabkan tertariknya
sejumlah besar materi dari matahari dan bintang lain oleh gaya pasang surut yang kemudian terkondensasi menjadi planet. Namun astronom Harold
Jeffreys tahun 1929 membantah bahwa tabrakan yang sedemikian itu
hampir tidak mungkin terjadi. Demikian pula astronom Henry Norris Russell mengemukakan
keberatannya atas hipotesis tersebut.
·
Hipotesis
Kondensasi
Hipotesis kondensasi mulanya dikemukakan oleh astronom Belanda yang bernama
G.P. uiper
(1905-1973) pada tahun 1950.
Hipotesis kondensasi menjelaskan bahwa Tata Surya terbentuk dari bola kabut
raksasa yang berputar membentuk cakram raksasa.
·
Hipotesis
Bintang Kembar
Hipotesis Bintang Kembar awalnya dikemukakan oleh Fred Hoyle
(1915-2001) pada tahun 1956.
Hipotesis Bintang Kembar menjelaskan bahwa Tata Surya berupa dua bintang yang
hampir sama ukurannya dan saling berdekatan. Kemudian salah satunya
meledak dan meninggalkan serpihan-serpihan kecil. Serpihan itu terperangkap oleh
gravitasi bintang yang tidak meledak dan mulai mengelilinginya.
2. Sejarah Penemuan
Lima planet terdekat ke Matahari selain Bumi (Merkurius, Venus, Mars, Yupiter, dan Saturnus)
telah dikenal sejak zaman dahulu karena mereka semua bisa dilihat dengan mata
telanjang. Banyak bangsa di dunia memiliki nama sendiri untuk masing-masing planet.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pengamatan pada lima abad lalu
membawa manusia untuk memahami benda-benda langit terbebas dari selubung
mitologi. Galileo Galilei (1564-1642) dengan teleskop
refraktornya mampu menjadikan mata manusia “lebih tajam” dalam mengamati benda
langit yang tidak bisa diamati melalui mata telanjang. Karena teleskop Galileo
bisa mengamati lebih tajam sehingga ia bisa melihat berbagai perubahan bentuk
penampakan Venus
seperti Venus Sabit atau Venus Purnama sebagai akibat perubahan posisi Venus
terhadap Matahari. Penalaran Venus mengitari Matahari makin memperkuat teori heliosentris
yaitu bahwa matahari adalah pusat alam semesta. Susunan heliosentris adalah
Matahari dikelilingi oleh Merkurius hingga Saturnus.
Teleskop Galileo terus disempurnakan oleh ilmuwan lain seperti Christian
Huygens (1629-1695) yang menemukan Titan, satelit Saturnus,
yang berada hampir 2 kali jarak orbit Bumi-Yupiter.
3. Struktur Tata Surya
Komponen utama sistem Tata Surya adalah matahari,
sebuah bintang
deret
utama kelas G2 yang mengandung 99,86
persen massa dari sistem dan mendominasi seluruh dengan gaya gravitasinya. Yupiter
dan Saturnus
merupakan dua komponen terbesar yang mengedari matahari menyangkup
kira-kira 90 persen massa selebihnya. Hampir semua objek-objek besar yang
mengorbit matahari terletak pada bidang edar bumi yang disebut ekliptika.
Semua planet
terletak sangat dekat pada ekliptika, sementara komet dan objek-objek sabuk
Kuiper biasanya memiliki beda sudut yang sangat besar dibandingkan ekliptika.
Planet-planet dan objek-objek Tata Surya juga mengorbit mengelilingi matahari
dengan berlawanan arah jarum jam jika dilihat dari atas kutub utara matahari
kecuali Komet Halley.
Hukum
Gerakan Planet Kepler menjabarkan
bahwa orbit dari objek-objek Tata Surya sekeliling matahari bergerak mengikuti
bentuk elips dengan matahari sebagai salah satu titik fokusnya. Objek yang
berjarak lebih dekat dari matahari memiliki tahun waktu yang lebih pendek. Pada
orbit elips, jarak antara objek dengan matahari bervariasi sepanjang tahun.
Jarak terdekat antara objek dengan matahari disebut perihelion, sedangkan jarak terjauh dari matahari disebut aphelion.
Semua objek Tata Surya bergerak tercepat di titik perihelion dan terlambat di
titik aphelion. Orbit planet hampir berbentuk lingkaran sedangkan komet,
asteroid, dan objek sabuk Kuiper orbitnya berbentuk elips.
Matahari
Matahari adalah bintang induk Tata Surya dan merupakan komponen utama sistem Tata
Surya.Bintang
ini berukuran 332.830 kali dari massa bumi. Massa yang besar ini
menyebabkan kepadatan inti yang cukup besar untuk bisa mendukung kesinambungan fusi nuklir
dan menyemburkan sejumlah energi yang dahsyat. Kebanyakan energi ini
dipancarkan ke luar angkasa dalam bentuk radiasi eletromagnetik yang termasuk
spektrum optik.
Nama – nama planet
a. Merkurius
Merkurius (0,4 SA) adalah planet terdekat dari matahari serta terkecil (0,055 massa
bumi). Merkurius tidak memiliki satelit alami dan ciri geologisnya di samping
kawah meteorid yang diketahui adalah lobed ridges atau rupes,
kemungkinan terjadi karena pengerutan pada perioda awal sejarahnya. Atmosfer
Merkurius yang hampir bisa diabaikan terdiri dari atom-atom yang terlepas dari
permukaannya karena semburan angin matahari. Besarnya inti besi dan tipisnya
kerak Merkurius masih belum bisa dapat diterangkan. Menurut dugaan hipotesis
lapisan luar planet ini terlepas setelah terjadi tabrakan raksasa dan
perkembangan (akresi) penuhnya terhambat oleh energi awal matahari.
b. Venus
Venus (0,7 SA) berukuran 0,815 kali dari massa bumi. Planet ini memiliki selimut
kulit silikat yang tebal dan berinti besi, atmosfer yang tebal dan memiliki
aktivitas geologi. Akan tetapi planet ini lebih kering dari bumi dan
atmosfernya sembilan kali lebih padat dari bumi. Venus tidak memiliki satelit.
Venus adalah planet terpanas dengan suhu permukaan mencapai 400 °C yang
kemungkinan besar disebabkan jumlah gas rumah kaca yang terkandung di dalam
atmosfer. Sejauh ini aktivitas geologis Venus belum dideteksi dan karena planet
ini tidak memiliki medan magnet yang bisa mencegah habisnya atmosfer diduga
sumber atmosfer Venus berasal dari gunung berapi.
c. Bumi
Bumi adalah planet bagian dalam yang terbesar dan terpadat. Bumi adalah
satu-satunya yang diketahui memiliki aktivitas geologi dan memiliki mahluk
hidup. Hidrosfer-nya yang cair adalah khas di antara planet-planet kebumian dan
juga merupakan satu-satunya planet yang diobservasi memiliki lempeng tektonik.
Atmosfer bumi sangat berbeda dibandingkan planet-planet lainnya karena
dipengaruhi oleh keberadaan mahluk hidup yang menghasilkan 21% oksigen. Bumi memiliki satu satelit yaitu bulan dan satu-satunya satelit besar dari planet kebumian di dalam Tata Surya.
d. Mars
Mars (1,5 SA) berukuran lebih keci dari bumi dan Venus (0,107 massa bumi).
Planet ini memiliki atmosfer tipis yang kandungan utamanya adalah karbon
dioksida. Permukaan Mars yang dipenuhi
gunung berapi raksasa seperti Olympus
Mons dan lembah retakan seperti Valles
marineris menunjukan aktivitas geologis
yang terus terjadi sampai belakangan ini. Warna merahnya berasal dari warna
karat tanahnya yang kaya besi. Mars mempunyai dua satelit alami kecil yaitu Deimos dan Phobos yang diduga merupakan asteroid yang terjebak gravitasi Mars.
e. Yupiter
Yupiter (5,2 SA) merupakan planet yang berukuran 318 kali massa bumi dan 2,5 kali
massa dari gabungan seluruh planet lainnya. Kandungan utama planet ini adalah hidrogen dan helium. Sumber panas di dalam Yupiter menyebabkan timbulnya beberapa ciri
semi-permanen pada atmosfernya seperti pita pita awan dan Bintik Merah Raksasa. Sejauh yang diketahui Yupiter memiliki 63 satelit. Empat yang terbesar
adalah Ganymede, Callisto, Io, dan Europa yang
menampakan kemiripan dengan planet kebumian, seperti gunung berapi dan inti
yang panas. Ganymede, yang merupakan satelit terbesar di Tata Surya berukuran
lebih besar dari Merkurius.
f. Saturnus
Saturnus (9,5 SA) yang dikenal dengan sistem cincinnya memiliki beberapa kesamaan
dengan Yupiter yaitu komposisi atmosfernya. Meskipun Saturnus hanya sebesar 60%
volume Yupiter, namun planet ini hanya seberat kurang dari sepertiga
Yupiter atau 95 kali massa bumi sehingga membuat planet ini sebuah planet yang
paling tidak padat di Tata Surya. Saturnus memiliki 60 satelit yang diketahui
sejauh ini dan 3 yang belum dipastikan. Dua di antaranya yaitu Titan dan Enceladus yang menunjukan activitas geologis meskipun hanya terdiri dari es
saja. Titan berukuran lebih besar dari Merkurius dan merupakan satu-satunya satelit di Tata Surya yang memiliki atmosfer
yang cukup berarti.
g. Uranus
Uranus (19,6 SA) yang memiliki 14 kali massa bumi adalah planet yang paling
ringan di antara planet-planet luar. Planet ini memiliki kelainan ciri orbit.
Uranus mengedari matahari dengan berukuran poros 90° pada ekliptika. Planet ini memiliki inti yang sangat dingin dibandingkan gas raksasa
lainnya dan hanya sedikit memancarkan energi panas. Uranus memiliki 27 satelit
yang diketahui dan yang terbesar adalah Titania, Oberon, Umbriel, Ariel, dan
Miranda.
h. Neptunus
Neptunus (30 SA) meskipun sedikit lebih kecil dari Uranus namun memiliki 17 kali
massa bumi sehingga membuatnya lebih padat. Planet ini memancarkan panas dari
dalam tetapi tidak sebanyak Yupiter atau Saturnus. Neptunus memiliki 13 satelit
yang diketahui. Yang terbesar adalah Triton. Triton memiliki geyser nitrogen cair dan geologinya aktif. Triton
adalah satu-satunya satelit besar yang orbitnya terbalik arah (retrogade).
Neptunus juga didampingi beberapa planet minor pada orbitnya yang disebut
Trojan Neptunus. Benda-benda ini memiliki resonansi 1:1 dengan Neptunus.
Benda-benda lain dalam system tata surya
Pada tata
surya, kecuali terdapat planet-planet yang telah disebutkan di muka,
terdapatpula benda-benda lain berikut ini.
1. Planetoida
atau Asteroida
Pada tahun 1801,
Piazzi, seorang astronom bangsa Italia melalui observasinya denganteleskop
menemukan benda langit yang berdiameter± 900 km (Bulan berdiameter 3000
km)beredar mengelilingi Matahari. Dalam beberapa tahun kemudian ternyata
ditemukan pulabeberapa benda semacam itu. Benda-benda itu mengorbit
mengelilingi Matahari pada jarakantara Mars dan Yupiter. Pada saat ini, benda
semacam itu telah diketahui sebanyak + 2000buah, berbentuk bulat dan kecil.
Yang terbesar bernama Ceres dengan diameter 750 km.Benda-benda langit itu
disebut planetoida atau "bukan planet", untuk membedakannyadengan
planet utama yang telah diterangkan.
2. Komet atau
Bintang Berekor
Meskipun komet
disebut sebagai bintang berekor, tetapi komet bukan tergolong bintangalam dalam
arti yang sebenarnya. Komet merupakan anggota tata surya, yang beredar
me-ngelilingi Matahari dan menerima energinya dari Matahari.
3.
Meteor atau Bintang
BeralihMeteor
bukan tergolong bintang karena meteor merupakan anggota tata surya.
Meteorberupa batu-batu kecil yang berdiameter antara 0,2 sampai 0,5 mm dan
massanya tidak lebihdari 1 gram. Meteor ini semacam debu angkasa yang bergerak
dengan kecepatan rata-rata 60 km/detik atau 60 x 60 x 60 km per jam.4.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar